Yuk Jaga Anak Kita dari Ideologi dan Sikap Intoleran
|
Ujung_Pena - Diikutsertakannya anak-anak, sebagian besar bahkan di bawah umur, ke
dalam aksi teror memberikan kita pesan bahwa mereka bisa melakukan berbagai
cara, melebihi nalar manusiawi siapapun. Ideologi radikal, teror dan
kekerasan membuktikan dirinya bisa dengan begitu mudah tumbuh dan berkembang
di dalam keluarga. Terus terang, ini membuat bulu kuduk saya merinding.
Sebab di sisi lain, keluarga sebagai institusi sosial terkecil dipercaya
menjadi poros utama kemajuan bangsa. Perubahan kebangsaan berada di komunitas
terkecil ini. KH Husein Muhammad menyebut keluarga sebagai jantung dari
kehidupan bangsa. Di ruang kecil inilah nasib bangsa dipertaruhkan. Dan sumbu
utamanya terletak pada seorang perempuan.
Oleh karenanya menjadi penting dan mendesak bagi keluarga muslim di
manapun, terkhusus umat Islam di Indonesia untuk segera membentengi anggota
keluarganya dari paparan ideologi teror dan kekerasan.
Caranya di antaranya dengan memberikan pemahaman agama yang benar kepada
anak. Anak sesegera mungkin diberi pengertian bahwa agama yang benar tidak
mengajarkan kekerasan dengan alasan apapun. Apalagi kekerasan yang bisa
menghilangkan nyawa manusia, makhluk Allah yang paling dimuliakan.
Anak juga perlu dikenalkan pada kenyataan bahwa dunia ini dihuni oleh
masyarakat yang berbeda-beda. Anak-anak bisa diperdengarkan lagu ‘Kebunku’
atau lagu-lagu anak lainnya dan orang tua menjelaskan tentang keberagaman
yang tampak jelas tersirat dalam lagu tersebut.
Anak-anak juga akan sangat senang mendengarkan cerita kehidupan Nabi.
Ceritakan bagaimana Nabi Muhammad begitu menghormati umat dari agama lain.
Sisipan pelajaran sejarah nabi yang toleran terhadap perbedaan penting untuk disampaikan.
Kedua, memilihkan sekolah (madrasah/pesantren) yang tepat untuk anak.
Sekolah dengan pemahaman Islam yang tidak ramah (radikal) perlu dihindari
bukan hanya sebagai proteksi diri dan keluarga.
Memilih sekolah yang mengajarkan radikalisme akan membuat sekolah
tersebut mempunyai nafas panjang dan peluang besar untuk mengajarkan ajaran
kekerasan kepada masyarakat yang lebih luas. Cara menghentikan nafas sekolah
ini adalah dengan tidak mengirimkan anak-anak kita ke sana.
Ketiga, ketika beranjak remaja, saat mereka mulai mempertanyakan banyak
hal, berikan pengalaman keberagaman yang berarti. Sesekali kita bisa mengajak
anak-anak remaja kita bertemu dengan orang yang berbeda agama atau tempat
ibadah agama yang berbeda.
Pengalaman ini penting agar remaja merasakan bahwa diri mereka maupun
orang lain ternyata memiliki kesamaan, sama-sama manusia ciptaan Allah swt,
yang begitu dimuliakan dan tak pantas menerima kekerasan apapun.
Keempat, mengawasi apa saja kegiatan anak remaja kita, baik di sekolah maupun
di media maya juga penting dilakukan. Jadilah pendengar yang baik saat mereka
mengutarakan hal-hal terkait ajaran agama. Hargai mereka sebagai orang yang
beranjak dewasa. Berikan bimbingan agar mereka pandai menghindar dari ajaran
agama yang menyalahkan perbedaan dan menganjurkan kekerasan.
Kelima, keluarga muslim juga perlu membangun relasi yang berkesalingan
antara suami istri sehingga satu sama lain tidak saling harus ‘taat mutlak’
pada pasangannya. Hubungan suami istri adalah hubungan kerjasama bukan
hubungan budak-majikan. Ketaatan hanya untuk ajakan yang baik. Ajakan menuju
kekerasan harus ditolak, sekalipun itu datang dari pasangan.
Keenam, ajak anggota keluarga rajin berinteraksi dengan orang lain,
terutama yang berbeda pandangan agamanya. Interaksi ini tidak untuk memupuk
kebenaran sendiri dalam zona perdebatan tapi berupaya untuk memahami ajaran
Islam dalam berbagai cara pandang pemeluknya.
|
Credit by : https://islami.co/bunda-dan-ayah-yuk-jaga-anak-kita-dari-ideologi-dan-sikap-intoleran/

Comments
Post a Comment