Ujung_Pena, Pada bulan Oktober tahun lalu, tagar ‘Jangan Suriahkan
Indonesia’ sempat menjadi trending topic di media sosial
Twitter.
Awal kemunculan tagar ini ketika massa yang sebagian besar
merupakan alumni 212 menggelar aksi bela Tauhid. Aksi ini didasari insiden
pembakaran bendera HTI oleh tiga pemuda GP Anshor di Hari Santri Nasional pada
tanggal 22 Oktober 2018.
Bendera hitam yang dibakar itu diyakini merupakan bendera
organisasi terlarang HTI yang memang menggunakan kalimat Tauhid. Sehingga
banyak umat muslim yang marah dan menganggap kejadian tersebut merupakan
penghinaan terjadap kalimat Tauhid.
Namun isu ini terus bergulir, dengan perbedaan pandangan
antara satu orang dengan yang lainnya. Di media sosial, isu ini tidak
henti-hentinya dibicarakan juga diperdebatkan.
Bahkan setelah proses hukum dan permintaan maaf oleh ketiga
pelaku, massa kembali menggelar aksi bela Tauhid kedua yang diadakan di awal
November 2018. Hal ini menyebabkan rasa khawatir dan takut akan adanya
perpecahan di antara kaum muslimin, mengingat pelaku pembakaran bendera
merupakan saudara seiman dan sebangsa.
Selain itu, narasi yang dikemukakan pendemo juga disertai
dengan hate speechterhadap pemerintah. Ada unsur politis di dalam
rangkaian aksi yang digelar. Aksi yang seharusnya berisikan pembelaan terhadap
kalimat Tauhid, namun justru sering kali terdengar pekikan slogan ‘ganti
presiden’ di dalamnya.
Jika kita kembali pada masa sebelum Suriah mengalami konflik
berkepanjangan seperti yang masih terjadi hingga hari ini, ada kesamaan antara
negara kita dengan mereka. Kekacauan yang terjadi di Suriah juga diawali dengan
aksi anti-pemerintahan.
Terlepas dari seperti apa bentuk dan kebijakan pemerintahan
yang pada saat itu dijalankan di Suriah, kesamaan politik berbalut isu agama
inilah yang memunculkan rasa khawatir bagi mereka yang mengetikkan tagar
‘Jangan Suriahkan Indonesia’.
Mengutip dari penjelasan Muhammad Syarif Sawwaf, rektor
Universitas Ahmad Kuftaro di Damaskus, menyatakan bahwa sebelum perang terjadi,
terdapat intimidasi terhadap umat Kristiani di Suriah. Terdapat hasutan dan
pembunuhan terjadi dengan nama Islam atau Kristen, membunuh sekte yang lain di
Suriah.
Tindakan-tindakan teror ini memang disengaja untuk membuat
kerusuhan. Sehingga ketika pertumpahan darah telah terjadi, maka label ‘perang
saudara’ yang disematkan. Tanpa melihat bahwa isu politik berada di balik
layar, menginginkan kekuasaan untuk jatuh dari genggaman klan Assad.
Padahal kehidupan beragama di Suriah cukup moderat dan
sangat toleran, seperti yang disebutkan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia
(PPI) Suriah. Dan konflik Suriah berkaitan erat dengan berbagai kepentingan
politik regional dan global tetapi ada yang memainkan isu agama di dalamnya.
Kembali ke Indonesia, intimidasi juga pernah terjadi dengan
agama yang memainkan peran untuk kepentingan politik semata. Bahkan intimidasi
ini tidak menyasar pada mereka yang masih hidup saja, tetapi mereka yang sudah
menjadi jenazah juga mengalaminya.
Masih segar di ingatan kita bagaimana masyarakat yang
memilih calon Gubernur yang non-muslim diancam tidak akan disalatkan
jenazahnya. Dari kasus mantan Gubernur Ahok, kita bisa bercermin sejauh mana
politisasi agama sudah terbentuk di Indonesia.
Terlebih lagi dengan tahun 2019 kita akan berpesta politik
secara besar-besaran dan tidak sedikit isu agama dimanfaatkan demi kepentingan
elite politik. Kita bisa melihat pesan kebencian yang disuarakan dari mimbar ke
mimbar, hoaks mengenai penganiayaan ulama hingga pengelompokan antara partai
Allah dan partai Setan.
Ketika menghadiri acara haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsy
di Solo, Habib Luthfi sempat menegur dengan keras segelintir orang yang
mencampuradukkan kegiatan ibadah (haul) dengan kampanye politik. Pastinya
tindakan Habib Luthfi merupakan bagian dari menjaga keutuhan negara,
menghindari perpecahan antara dua kubu pendukung pasangan calon presiden.
Upaya Habib Luthfi ini sama seperti yang pernah disebutkan
oleh Sekjen Alsyami, M. Najih Arromadloni dalam seminar bertajuk Jangan
Suriahkan Indonesia, bahwa Indonesia jangan sampai jatuh dalam perangkap
politisasi agama seperti Suriah. Menjadi kewajiban setiap warga negara untuk
selalu menjaga negara dari setiap upaya yang akan merugikan kehidupan
bernegara.
Karena tanpa suatu negara, kita tidak bisa menjalani kehidupan
beragama, maka menjaga negara untuk tetap damai menjadi bagian dari menjaga
agama. Dan ketika negara sudah mengalami kekacauan, maka pihak luar akan
mendapatkan kesempatan melalui instabilitas untuk menyusup dan menunggangi
perpecahan.
Di Suriah, pihak-pihak yang menunggangi konflik ini adalah
kelompok yang ingin menggantikan sistem negara dengan sistem Khilafah dan
kelompok-kelompok teroris lainnya. Dan ternyata kita juga sudah memilikinya di
Indonesia.
Di Indonesia terdapat HTI yang ingin mendirikan negara
Khilafah. Meski sudah dikategorikan organisasi terlarang oleh negara, namun
masih terdengar semangat seruan negara Khilafah oleh mantan anggota dan
pendukungnya. Tidak tanpa alasan mengapa HTI kemudian ditiadakan. Organisasi
ini ingin mengubah ideologi negara menjadi negara Islam. Lalu bagaimana dengan
Pancasila yang selama ini menjadi pengikat keberagaman bangsa Indonesia?
Di suatu video yang viral, jubir HTI Ismail Yusanto
menyerukan 2019 ganti sistem. Dan ketika dirinya didesak untuk menjawab
pertanyaan dari jurnalis Aiman Witjaksono, ‘Apakah Khilafah versi HTI akan
mengubah Pancasila’, Ismail Yusanto tidak memberikan jawaban pasti bahwa HTI
akan tetap menjadikan Pancasila sebagai ideologi dasar negara.
Selain itu, di Indonesia juga terdapat kelompok-kelompok
teroris yang terafiliasi dengan ISIS dan Al-Qaeda. Sebut salah satunya jaringan
Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang bertanggung jawab atas rangkaian ledakan bom
bunuh diri di Surabaya tahun lalu. Tindakan-tindakan teror semacam ini sudah ada
di Suriah, sebelum konflik terjadi. Umumnya teror berupa ledakan bom mobil yang
menargetkan instansi pemerintahan Suriah.
Akhirnya kembali kepada diri kita, sanggupkah kita diwarisi
negeri seindah Nusantara ini? Orang yang berpikir akan mampu melihat dengan
baik segala informasi, nasihat ataupun ajakan yang jernih pada pembangunan
negara atau hasutan yang berujung pada kehancuran negara.
Gelombang deras informasi terutama di dunia maya kini
melanda negeri. Sepatutnya kita mengharuskan diri untuk mengambil informasi
dari para pakar di bidangnya. Bukan sembarang orang yang dengan mudah mendaulat
diri menjadi pengamat, merasa paling tahu lalu menebar hasutan, menuduh tanpa
data hingga berujung saling membenci antarwarga negara.
Berpikir adalah penyelamat, terutama dalam menutup celah
kekisruhan pada Pemilihan Presiden nanti. Silakan mencari dan menerima segala
berita dan informasi, tapi jangan jadikan informasi yang hadir hanya sebagai
penguatan keyakinan.
Informasi yang harus kita serap adalah pengetahuan yang
nyata, berbasis data, disampaikan oleh pakar di bidangnya dan dengan rekam
jejak yang benar. Negara dan bangsa ini membutuhkan warga yang berpikir dan
bertindak dengan benar.
Credit :https://www.qureta.com/post/jangan-impor-konflik-suriah

Comments
Post a Comment